SDN 2 Bakalan Krajan Menjadi Sorotan Orang Tua Siswa

By Editor 19 Des 2025, 08:22:53 WIB Daerah
SDN 2 Bakalan Krajan Menjadi Sorotan Orang Tua Siswa

Keterangan Gambar : Kegiatan pertemuan pihak SDN 2 Bakalan bersama wali murid




Newswartaindonesia.com/Malang - Dunia pendidikan kota Malang SDN 2 Bakalan krajan Kecamatan Sukun Kota Malang, menjadi sorotan tajam dari wali siswa terkait pemindahan guru pendidik, Sartono Muhtar dari SDN 2 Bakalan Krajan.Kamis (18/12/2025).

Informasi yang beredar Orang tua wali murid menolak adanya pemindahan guru Sartono Muhtar, mutasi itu sangat mendadak, mengingat saat anak- anak masih mengahadapi ujian sekolah, pihak sekolah kurang transparan dalam hal itu.

Saat awak media untuk konfirmasi pihak sekolah,persoalan mutasi atau pemindahan seorang pendidik hal yang wajar, karena tertuang dalam Undang - Undan ASN no 20/2023, peraturan BKN.No.5 Tahun 2019 dan Peraturan pemerintah No.19 Tahun 2017, kita harus mematuhi kapan dan dimana jika ada mutasi wajib untuk dilaksanakan,"ujar seorang guru disekolah tersebut.

"Pihak sekolah telah terbuka untuk  mengajak duduk bersama hadir di ruangan Kantor Kepala sekolah,untuk mencari solusi menyelesaikan beredarnya polemik yang menimpa SDN 2 Bakalan krajan pada saat itu , namun pihak wali murid menolaknya dengan alasan takutnya akan menimpa anak didiknya. 

Permasalahan SDN 2 Bakalan Krajan Kecamatan Sukun yang menjadi sorotan publik ,pada saat gelar acara penerimaan Rapor siswa didik.

Kepala Sekolah Hanik, sangat kecewa, kenapa wali murid saya berbuat seperti itu ke sekolahnya sendiri, artinya bagaimana cara menjaga kredibilitas sekolah yang baik, belum ada rasa komitmen terhadap pendidikan, "Sebagai evaluasi, saya sebagai Kepala Sekolah sudah menyampaikan kepada wali murid untuk menyadari hal itu, hanya cerita dari seseorang yang tidak bertanggung jawab,semua informasi ditelan mentah -  mentah oleh orang tua siswa semuanya."kata Hanik.

Saat acara penerimaan Rapor, semua orang tua siswa hadir, namun anak -anak tidak masuk sekolah. Hal yang pada akhirnya merugikan anak - anak sendiri, ketika mogok tidak masuk sekolah ,dan sekolah selalu peduli, sekolahpun selalu memberi pelajaran yang terbaik bagi anak didik, karena  orang tua siswa sebagai partner untuk saling mendukung kegiatan belajar anak didiknya.

Dengan tidak masuknya (mogok) anak siswa kelas IIb,  pihak sekolah sangat terpukul dengan adanya anak mogok sekolah, padahal anak sekecil itupun tidak mengerti apa - apa. jika anak disuruh libur, pasti akan libur, tanpa ada perintah dari orang tua siswa masing - masing,hal itu sangat menyayangkan bisa terjadi, bagaimana cara mendidik anak yang baik , sebagai orang tua bagaimana menghargai sekolah, cara menghormati sekolah ini perlu kita tanamkan kembali, dan disadarkan.  

"Guru merasa sedih jika melihat para murid  tidak masuk sekolah (mogok),hati kita menangis kalau melihat anak didiknya mogok sekolah, hal itu faktor dari orang tua murid, tanpa ada komando gak mungkin terjadi anak- anak gak masuk sekolah.",ungkap Kepala sekolah.

"Dengan adanya pertemuan dengan orang tua siswa kelas IIb, semua sudah clear dan semua saling memaafkan agar  kedepannya untuk mengevaluasi segala permasalahan harus diselesaikan bersama tanpa harus menyebarkan di media sosial," jelasnya. 

Ditempat terpisah seorang ibu muda yang tidak berkenan menyebutkan identitasnya, mengatakan pemaparan ibu kepala sekolah yang begitu lama hampir dua jam, saya sangat mengerti dan paham bagaimana ribetnya segala aturan pemerintah itu, pada akhirnya saya paham dan mengerti semua penjelasannya dan kami akan mendidik anak saya lebih baik lagi,"ujarnya.

Terkait masalah PIP (Program Indonesia Pintar), semua pengurusan dari pihak sekolah, namun hingga saat ini anak yang sudah di ajukan  belum ada yang keluar, hal itu kebijakan dari pusat,"kata seorang wali kelas.

"Bagi yang mencintai pendidikan, kesaksian kita dipandang sebagai bau harum dan mereka memahami apa yang ada dilapangan, namun sebaliknya bagi yang menolak pendidikan lebih baik, ada kecenderungan selalu membuat isu yang menjadi polemik pendidikan ,terkadang tanpa harus pikir panjang dan mengedepankan rasa egois tanpa harus menerima kenyataan,"pungkasnya. (eddy)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment